Samuel Kristian Sitompul : Dari Revolusi Industri Hingga Era Digital, Nasib Buruh Dinilai Belum Banyak Berubah
Pekanbaru (Riau), LPC
Sejarah gerakan perburuhan dunia bermula sejak Revolusi Industri pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 di kawasan Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pada masa itu, kaum buruh bekerja dalam kondisi sangat memprihatinkan: jam kerja mencapai 14 hingga 16 jam per hari tanpa jaminan keselamatan maupun kesejahteraan. Para pekerja bahkan kerap diperlakukan layaknya “mesin produksi” demi kepentingan industri.
Kondisi tersebut kemudian melahirkan gerakan serikat pekerja sebagai bentuk perjuangan menuntut hak-hak dasar kaum buruh, mulai dari jam kerja yang manusiawi, upah layak, hingga perlindungan keselamatan kerja.
Namun, memasuki era modern dan digital saat ini, sejumlah kalangan menilai nasib kaum buruh belum mengalami perubahan signifikan. Praktik eksploitasi dinilai masih terjadi; hanya bentuknya yang berubah mengikuti perkembangan zaman dan teknologi.
Hal itu disampaikan Samuel Kristian Sitompul, mahasiswa Program Studi Hukum Universitas Lancang Kuning sekaligus Ketua SPSI F SP BPU Pekanbaru. Menurutnya, sistem kerja modern masih menyisakan banyak persoalan serius terkait perlindungan tenaga kerja.
“Kalau dilihat secara nyata, kondisi perburuhan di zaman sekarang dengan masa Revolusi Industri sebenarnya hanya berbeda tipis. Buruh masih sering dipandang hanya sebagai alat produksi demi kepentingan ekonomi,” ujarnya.
Samuel menyoroti minimnya perhatian pemerintah, khususnya dari sektor ketenagakerjaan, dalam memberikan pembinaan yang benar-benar menyentuh kebutuhan pekerja. Program pelatihan dan seminar dinilai masih sebatas formalitas tanpa dampak nyata terhadap peningkatan kualitas serta kesejahteraan tenaga kerja.
Sorotan juga diarahkan kepada Balai Latihan Kerja. Dahulu BLK dikenal aktif mencetak tenaga kerja terampil. Kini, menurutnya, banyak BLK yang tidak berjalan maksimal dan keberadaannya kurang dirasakan masyarakat.
“Banyak masyarakat bahkan tidak tahu lokasi BLK. Ada yang berdiri, tetapi fungsinya tidak berjalan sebagaimana mestinya,” tambahnya.
Selain itu, ia berharap pemerintah mulai memberikan edukasi ketenagakerjaan sejak dini, termasuk di tingkat sekolah menengah, agar generasi muda memahami hak dan kewajiban pekerja serta memiliki kesiapan menghadapi dunia kerja secara sehat dan profesional.
Samuel juga mengingatkan agar kaum buruh tidak lagi dipandang sekadar sebagai alat transaksional demi kepentingan pribadi, kelompok, maupun politik.
“Kaum buruh adalah bagian penting dalam pembangunan bangsa. Sudah seharusnya mereka dihargai dan diperlakukan secara manusiawi,” tutupnya.***Bsf
Sejarah Berulang: Srikandi Tapung Hulu Kembali Pimpin DPC PPP Kampar, Jasnita Tarmizi Targetkan Kembali ke Senayan 2029
Rohul (Riau), LPCDunia politik Kabupaten Kampar kembali mencatatkan lemba.
H Salman Kembali Nakhodai Partai Persatuan Pembangunan Kota Dumai
Kota Dumai (Riau), LPCBertempat di Cititel Hotel, H Salman dipercaya kemb.
DPD Partai Perindo Dumai Buka Puasa Bersama 1446 H
Kota Dumai (Riau), LPCPengurus DPD Partai Perindo Dumai menggelar acara b.
Polemik Pemilihan RT 06 Purnama Berakhir, Hasil PSU Dimenangkan Maryani
Kota Dumai (Riau), LPC Peran Ketua RT sangat strategis sebagai jemba.
KPU Sumut Gelar Rapat Pleno Terbuka Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur 2024
Medan (Sumut), LPC Komisi Pemilihan Umum Provinsi Sumatera Uta.
Pasca Pembacaan Putusan Dismissal MK, KPU Sumut Akan Tetapkan Pemenang Pilgubsu
Medan (Sumut), LPCPasca pembacaan putusan dismissal Mahkamah Konstitusi (.








